Senin, 08 November 2021

2.1.a.9. Koneksi Antar Materi - Modul 2.1

 


Definisi

Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal atau common sense yang dibuat oleh guru yang berorientasi pada kebutuhan murid yaitu kesiapan belajar, minat, dan profil belajar murid.Pembelajaran berdiferensiasi berakar pada pemenuhan kebutuhan belajar murid dan bagaimana  guru merespon kebutuhan belajar tersebut melalui diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk.

Bagaimana pembelajaran berdiferensiasi dapat dilakukan di kelas?

Menurut Carol ann Tomlinson, untuk mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi harus dibangun diatas learning community yaitu komunitas yang semua anggotanya adalah pembelajar. Guru akan memimpin murid-muridnya untuk mengembangkan sikap-sikap dan praktik-praktik yang saling mendukung tumbuhnya lingkungan belajar.

Lalu bagaimana penerapannya di kelas?

Pembelajaran berdiferensiasi haruslah berakar pada pemenuhan kebutuhan belajar murid dan bagaimana guru merespon kebutuhan belajar tersebut. Keputusan-keputusan yang dibuat terkait dengan tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas, bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya, menciptakan lingkungan belajar yang ‘mengundang’ murid untuk belajar, manajemen kelas yang efektif, dan penilaian berkelanjutan.

Langkah-langkah penerapan di kelas dapat dilakukan melalui

1. Merumuskan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai

2. Memetakan kesiapan minat dan profil belajar peserta didik

3. Melakukan diferensiasi konten proses dan produk

4. Menciptakan lingkungan belajar yang kolaboratif dan menyenangkan

5. Melakukan penilaian berkelanjutan

Bagaimana pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal?

Agar pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar peserta didik seorang guru perlu melakukan identifikasi terhadap kebutuhan belajar peserta didik , di mana pembelajaran berdiferensiasi haruslah berpihak pada peserta didik. Strategi pembelajaran didasari oleh kebutuhan dasar peserta didik yang meliputi kesiapan minat dan profil belajar peserta didik, serta lingkungan belajar yang positif dan saling menghargai.

Strategi pembelajaran diferensiasi yaitu 1. Diferensiasi konten yang merujuk pada strategi dalam  membedakan pengorganisasian penyampaian konten yang disampaikan oleh guru. 2. Diferensiasi proses merujuk pada strategi untuk membedakan proses belajar yang harus dijalani oleh peserta didik yang dapat memungkinkan mereka untuk memahami isi materi yang diberikan. 3. Diferensiasi produk merujuk pada strategi untuk memodifikasi hasil belajar latihan penerapan dan pengembangan yang telah dipelajari peserta didik.

Selain hal-hal di atas, agar  pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal perlu juga diperhatikan hal-hal berikut.

1. Bersifat proaktif

Di dalam kelas guru akan selalu berasumsi bahwa murid yang berbeda memiliki kebutuhan yang berbeda dan secara proaktif merencanakan pembelajaran yang menyediakan berbagai cara untuk mengekspresikan dan mencapai tujuan pembelajaran.

2. Bersifat kualitatif

Banyak guru secara salah berasumsi bahwa mendiferensiasi pembelajaran berarti memberi beberapa murid lebih banyak pekerjaan untuk dilakukan dan yang lainnya lebih sedikit. Meskipun pendekatan diferensiasi seperti itu mungkin tampak masuk akal, namun yang seperti itu biasanya justru tidak efektif.

3. Berakar pada penilaian

Produk akhir atau cara lain dari penilaian akhir atau sumatif akan mengambil berbagai bentuk dengan tujuan untuk menemukan cara terbaik bagi setiap murid untuk menunjukkan hasil belajarnya selama unit tersebut berlangsung.

4. Pendekatan terhadap konten proses dan produk

Di kelas guru setidaknya berurusan dengan tiga elemen kurikulum yaitu

  • 1. Konten atau masukan apa yang dipelajari murid
  • 2. Proses yaitu bagaimana murid berupaya memahami ide dan informasi dan
  • 3. Produk yaitu keluaran atau bagaimana murid menunjukkan apa yang telah mereka pelajari.

 

5. Berpusat pada murid

Hal ini dilandasi pada premis bahwa pengalaman belajar paling efektif adalah ketika pembelajaran tersebut berhasil ‘mengundang’ murid untuk terlibat Relevan dan menarik bagi murid.

6. Merupakan perpaduan dari pembelajaran seluruh kelas, kelompok, dan individual

Ditandai oleh irama berulang dari melakukan persiapan kelas, mengulas kembali dan berbagi yang kemudian diikuti oleh kesempatan untuk mengeksplorasi individu atau kelompok kecil.

7. Bersifat organik dan dinamis

Kolaborasi yang berkelanjutan dengan murid diperlukan untuk memperbaiki peluang belajar agar efektif untuk setiap murid. Guru memantau kecocokan antara kebutuhan murid dan proses pembelajaran mereka serta membuat penyesuaian sebagaimana diperlukan.

 

Kaitan antara pembelajaran berdiferensiasi dengan materi di modul lainnya.

1. Filosofi Ki Hajar Dewantara

Pendidik berperan sebagai pendamping, pengarah atau among yang akan membimbing murid untuk mengembangkan semua potensi yang ada di dalam dirinya sehingga terbentuk profil pelajar Pancasila. Merdeka belajar dapat diwujudkan melalui pembelajaran berdiferensiasi dikarenakan setiap peserta didik terlahir dengan kodrat alam, dan kodrat zamannya masing-masing, sehingga dengan pembelajaran berdiferensiasi setiap peserta didik dapat memperoleh kesempatan belajar yang sesuai dengan kesiapan minat dan profil belajarnya masing-masing.

2. Peran dan nilai guru penggerak

Peran dan nilai guru penggerak dapat diwujudkan sebuah merdeka belajar apabila seorang guru penggerak dapat memiliki nilai dan peran tersebut di dalam dirinya serta mampu menerapkannya di dalam proses pembelajaran. Peran guru penggerak sebagai pemimpin pembelajaran menggerakkan komunitas praktisi mendorong kolaborasi antar guru menjadi kunci bagi guru lain dan mewujudkan kepemimpinan murid. Nilai guru penggerak antara lain mandiri reflektif kolaboratif inovatif serta berpihak pada murid.

3. Visi guru penggerak

Pembelajaran berdiferensiasi dapat membentuk profil Pelajar Pancasila. Hal ini  sesuai dengan visi guru penggerak dan sekolah yang dibangun berdasarkan pemetaan kekuatan internal dan eksternal melalui sebuah konsep perubahan yang dibuat melalui inkuiri apresiatif atau yang disebut dengan BAGJA. Untuk itu guru penggerak perlu melakukan kolaborasi. Guru Penggerak juga perlu melakukan pemetaan kekuatan yang dimiliki oleh sekolah melalui kolaborasi dengan warga sekolah, mampu mendukung murid berdasarkan kesiapan minat dan profil belajar peserta didik, sehingga pembelajaran berdiferensiasi dapat menjadi visi bersama guru penggerak dan sekolah.

4. Budaya positif

Untuk mewujudkan pembelajaran berdiferensiasi, kelas atau sekolah harus memiliki lingkungan belajar yang positif yang didukung dengan kemampuan seorang guru dalam menjadi manajer yang baik dalam pembelajaran, sehingga setiap peserta didik merasa diterima dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya, merasa aman dan nyaman, bisa saling menghargai serta peserta didik, juga bisa berkolaborasi dengan guru dalam melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi dilaksanakan dalam lingkungan belajar yang aman nyaman dan menyenangkan dan menyenangkan penuh dengan budaya positif.

 


Kamis, 04 November 2021

AKSI NYATA MODUL 1.3

Latar belakang

Saya adalah salah satu guru di SMP Negeri 2 Tanjungsari Kabupaten Lampung Selatan. Saya mengajar di sini sejak tahun 2019. Selama saya mengajar di sini,  saya merasa  bahwa guru masih memandang bahwa guru hanyalah sebuah profesi, guru masih melakukan pembelajaran yang berpusat pada guru. KBM hanya merupakan upaya dalam memenuhi tuntutan kurikulum saja. Melihat hal tersebut, saya sebagai calon guru penggerak bersama dengan satu CGP lainnya  berusaha untuk mencetuskan ide mensosialisasikan paradigma pemikiran Ki Hajar Dewantara peran dan fungsi guru penggerak sebagai bentuk perwujudan nilai kolaborasi dengan rekan guru di sekolah.  Kami berupaya untuk menggerakkan guru agar berkolaborasi bersama melakukan perubahan dengan melaksanakan praktik praktik baik di masa yang akan datang.

 Aksi nyata kali dalam rangka menggerakkan kesadaran rekan guru di sekolah tentang filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara sebagai dasar konsep merdeka belajar.

Kegiatan ini dilakukan dengan koordinasi terlebih dahulu dengan kepala sekolah kemudian mengkomunikasinya dengan  dewan guru.

Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 14 Oktober 2021 Setelah pembelajaran selesai.

Tujuan Kegiatan

Berbagi pengetahuan kepada rekan guru di sekolah tentang program guru penggerak yang telah dipelajari. Guru bisa mengubah paradigma belajar pembelajaran yang konvensional menjadi yang sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara.

Tolok ukur

Melalui sosialisasi ini para guru diharapkan dapat melakukan perubahan sedikit demi sedikit dengan memanfaatkan komunitas sekolah sebagai tempat saling belajar demi perubahan praktik baik yang berpihak pada murid.

Dukungan yang dibutuhkan

1. Dukungan dari Kepala Sekolah
2. Dukungan dan kerjasama dari rekan guru SMPN 2 Tanjungsari

Hasil aksi nyata

Suasana komunitas guru jadi menyenangkan karena bisa  belajar bersamadan bertukar pendapat.

Rekan Guru terlihat antusias ketika memaparkan beberapa permasalahan untuk dipecahkan bersama.

Para guru termotivasi untuk belajar lebih giat dan mengubah pola pikir mendidik siswa melalui pembelajaran yang berpihak pada murid.

Dokumentasi Kegiatan Aksi Nyata





 

Selasa, 28 September 2021

Tugas Aksi Nyata Modul 1.1

Pembelajaran yang menyenangkan dan berpusat pada siswa.

Pandemi covid 19 sudah berlangsung kurang lebih selama 1,5 tahun, tentunya ini membuat para siswa bosan dalam menjalani proses pembelajaran, karena yang biasanya mereka belajar secara tatap muka bertemu dengan teman-temannya, dapat bermain dengan teman-temannya, berganti menjadi pembelajaran dari rumah tanpa bisa bertemu dan bermain dengan teman-temannya. Dalam kondisi seperti ini diperlukan strategi, metode, cara kreatif yang dilakukan oleh guru di dalam merancang pembelajarannya agar para siswa tidak bosan dan mengalami kejenuhan di dalam mengikuti pembelajaran. Untuk itu, saya berupaya melakukan pembelajaran yang menyenangkan dan berpusat pada siswa. Saya tidak lagi memberikan tugas via WhatsApp saja tetapi menggunakan kombinasi antara WhatsApp, Google classroom, google meet dan google form.

Tujuan

Adapun tujuan dari rancangan aksi nyata ini yaitu sebagai berikut.

  1. Mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan  bagi siswa, sehingga materi yang mereka pelajari akan menjadi lebih bermakna.
  2. Mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student center oriented).
  3. Meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa.

Tolok Ukur

Adapun tolok ukur keberhasilan dari aksi nyata yang dilaksanakan ini sebagai berikut.

  1. Siswa lebih aktif dan antusias dalam mengikuti pembelajaran.
  2. Berkembangnya kompetensi yang dimiliki siswa baik dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.
  3. Siswa menunjukkan perilaku profil pelajar Pancasila


Dukungan yang Dibutuhkan

Untuk melancarkan pelaksanaan rancangan aksi nyata yang telah saya susun tentunya penulis memerlukan dukungan dari berbagai pihak. Adapun dukungan yang saya perlukan yaitu; dukungan kepala sekolah, dukungan dari rekan-rekan guru di sekolah, dan juga dukungan serta kerjasama dari orang tua siswa.

Aksi Nyata

Dalam memberikan pembelajaran dengan menggunakan media kombinasi Google classroom, WhatsApp, google meet, dan google form saya terlebih dahulu melatih anak untuk menggunakan aplikasi tersebut. Anak-anak saya panggil dengan cara dijadwalkan untuk ke sekolah guna mengikuti pelatihan menggunakan Google classroom. 

Demikianlah rancangan aksi nyata filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara yang dapat saya bagikan. Salam sehat dan bahagia.

Jumat, 24 September 2021

Seri Guru Penggerak-Menjadi Coach Bagi Guru Lain. Tugas Modul 1.2

Salah satu komponen dalam pembelajaran jarak jauh adalah ujian secara daring. Saat ini banyak tersedia aplikasi untuk membuat sebuah ujian berbasis daring  dengan berbagai macam kelebihan dan keunikannya masing masing. Salah satunya yang sudah sering di gunakan untuk berbagai macam keperluan adalah google form atau google formulir. Google form bisa untuk pendaftaran, kuisioner, evaluasi dan lainnya.

Kelebihan google form untuk membuat ujian online adalah terintegrasi dengan google drive yang mana memungkinkan agar mudah untuk kolaborasi, tampilan lebih simpel, tidak perlu mendaftar lagi, terintegrasi dengan google class room sedangkan kelemahannya adalah tampilannya sedikit kaku.

Untuk mengatasi tampilan yang kaku agar siswa tidak bosan mengerjakan ujian daring  berbasis google form, ada tambahan adds-on yang bisa kita masukan ke dalamnya sehingga tampilan di gawai meraka menjadi seperti tampilan chatting. Adds-on yang digunakan adalah chat-form.

 

Untuk itulah saya kemudian melakukan coaching terhadap guru yang ada di sekolah saya untuk menggunakan fitur adds-on chatform pada google form yang kami buat. Saya melakukan pendampingan pada tanggal 17 September 2021 selama 45 menit yakni pukul 08.00 s.d pukul 08.45 di ruang kelas 9A. Pendampingan saya laksanakan sebelum rapat persiapan tatap muka terbatas di SMPN 2 Tanjungsari.


 



































Senin, 24 Agustus 2020

Rangkuman Materi Bahasa Indonesia 25 Agustus 2020

Kaidah Kebahasaan Teks Laporan Percobaan

  • Menggunakan sinonim dan antonim

Pada teks laporan percobaan biasanya terdapat kata yang bersinonim atau bahkan berantonim. Biasanya kata-kata ini terdapat pada bagian langkah-langkah percobaan.

  • Menggunakan kata bilangan

Pada teks laporan percobaan akan ditemukan kata bilangan yang menunjukkan jumlah bahan yang digunakan dalam percobaan.

  • Menggunakan kalimat perintah

Pada teks laporan percobaan terdapat kalimat perintah seperti sebaiknya, hindari, campurkan, satukan, aduklah, lilitkan, dan lainnya.

  • Menggunakan kata hubung

Pada teks laporan percobaan akan ditemukan kata hubung dan, tetapi, apabila, saat, jika, sehingga, meskipun, dan lainnya.

Kamis, 20 Juli 2017

Pejuang dari masa ke masa

Memoar Para Aktivis Dakwah

Dari masa ke masa, kebangkitan Islam selalu ada yang mempelopori. Banyak orang yang menceburkan dirinya dalam kancah dakwah Islam, meski tak sebanyak yang mengabaikan kebangkitan dien ini. Para aktivis dakwah akan senantiasa ada, guna mengembalikan kejayaan Islam dari masa ke masa.

Api perjuangan tak akan pernah bisa padam. Mati satu, yang lain akan menyala. Seberapa pun gigihnya para pembenci Islam ingin memadamkan api perjuangan, mereka tidak akan pernah sanggup. Ibarat memadamkan cahaya matahari, tidak akan pernah terjadi. Ini adalah janji Allah yang pasti akan terbukti. Ini adalah janji Allah yang pasti akan terbukti:

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.”(QS. Ash Shaf: 8)

Aktivis Dakwah Di Masa Silam

Perjuangan agama ini dimotori oleh Rasulullah. Beliau adil, terpercaya, jujur, amanah, dan memiliki jiwa kepemimpinan yang ideal. Tapi, beliau tidak sendiri dalam menjalankan aktivitas dakwahnya. Beliau mencari orang-orang yang berhati mutiara. Menerima kebenaran dan siap dengan resiko yang menghadang.

Beliau berhasil merekrut pilar aktivis dari berbagai lini. Dari kalangan pemuda, ada konglomerat, ada Abu Bakar As Shidiq; kalangan preman, ada Umar bin Khattab; kalangan wanita dan sebagai simbol keberhasilan Rasulullah dalam membina keluarga, ada Khadijah; dan dari kalangan rakyat biasa, ada Zaid bin Tsabit. Beliau tidak lagi sendiri dalam menjalankan misi ini. Mereka siap menjadi kaki tangan dakwah Islam.

Dakwah Islam lalu menyebar hingga ke kabilah-kabilah di luar Makkah. Bani Ghifar, melalui lisan Abu Dzar Al-Ghifary yang menjadi aktivis dakwah sekembalinya dari Makkah. Negeri Habasyah yang berada di seberang laut merah, melalui kecerdasan sang aktivis dakwah, ja’far bin Abdul Muthalib. Dan tidak ketinggalan penduduk Yatsrib yang jaraknya 400-an km dari Makkah, melalui kecerdikan Mush’ab bin Umair sebagai aktivis dakwah.

Seiring waktu, Islam semakin kuat dan memiliki banyak pengikut. Hingga akhirnya Rasulullah mendirikan Negara Islam di Yatsrib, yang kemudian beralih nama menjadi Madinatur Rasul. Keberhasilan ini tidak lepas dari semangat dan kecerdasan para aktivis dakwah dalam mempublikasikan agama Islam.

Pergantian aktivis dakwah

Semangat para aktivis selalu diturunkan dari masa ke masa. Perjuangan Islam mengalami regenerasi. Setelah masa sahabat, perjalanan dakwah dikendalikan oleh para tabiin. Di sana ada hasan Al-bashri, Sa’id bin Musayyib, Ibnu Sirin, Mujahid, Sulaiman bin Yasar, Urwah bin Zubair, dan lain sebagainya.

Berakhirnya masa tabi’in, tanggung jawab dakwah diserahkan kepada tabiut tabiin. Di sana ada Imam Syafi’i yang terkenal dengan kecerdasannya. Ada Imam Ahmad yang terkenal gigih di atas kebenaran. Kemudian, di masa selanjutnya muncul aktivis-aktivis dakwah baru. Seperti Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, dan lain sebagainya. Pergantian aktivis dakwah terus berlanjut hingga runtuhnya khilafah Utsmaniyah di Turki. Dan terus berlanjut sampai hari ini.

Aktivis dakwah di Indonesia

Tinta sejarah telah merekam peran dan keikutsertaan para aktivis muslim di Indonesia dalam menghadapi bangsa penjajah, mulai dari portugis, belanda hingga jepang.

Banyak aktivis muslim menjadi pahlawan bangsa ini karena kiprahnya. Di jawa ada Raden Mas Ontowiryo, yang dijuluki pangeran Diponegoro. Beliau dan ratusan santrinya adalah para aktivis muslim yang memperjuangkan dien dan tanah airnya pada kisaran tahun 1800-an. Mereka para mujahid sekaligus juru dakwah. Di satu kesempatan mereka berjihad melawan orang-orang kafir yang datang dari daratan eropa. Dan dikesempatan lain mereka menyampaikan ajaran Islam kepada penduduk pribumi.

Di sumatra ada Muhammad Shahab, yang lebih dikenal dengan sebutan Tuanku Imam Bonjol. Beliau lahir di Bonjol, Pasaman, Sumatra Barat, Indonesia 1772. Beliau seorang aktivis dakwah pada masa silam. Menjadi ulama dan pemimpin masyarakat setempat. Getol menentang rezim penjajah dan senantiasa menyebarkan ajaran Islam kepada penduduk setempat. Beliau memimpin perang Pedri (1821-1837).

Di ujung pulau Sumatra ada seorang aktivis muslimah. Walaupun dari kalangan kaum hawa, sepak terjangnya tidak kalah trengginas dibandingkan  dengan aktivis kaum adam lainnya. Dia adalah The Queen of Aceh Batlle (1873-1904), bernama Tjoet Nyak Dhien.

Cut Nyak Dhien pernah berseru lantang saat berkecamuk perang, “Lihatlah wahai orang-orang Aceh!! Tempat ibadat kita dirusah!! Mereka telah mencoreng nama Allah! Sampai kapan kita begini? Sampai kapan kita akan menjadi budak Belanda?

Di pulau Sulawesi ada I Mallombasi Muhammad Bakir Datang Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. Nama asli Sultan Hasanuddin. Lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Januari 1631 dan meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juni 1670. Sepak terjang dan keberaniannya merepotkan bangsa kolonial. Belanda menjulukinya “De Haantjes wan Het Oosten” yang berarti Ayam jantan dari timur.

Di pulau kalimantan ada pangeran Antasari. Lahir di Kayu Tangi, Martapura, Banjar, Kalimantan Selatan 1797. Dan wafat di Murung Raya, Kalimantan tengah 11 Oktober 1862. Beliau adalah pemimpin rakyat yang penuh dedikasi sekaligus sebagai pewaris kesultanan Banjar. Untuk mengokohkan kedudukannya sebagai pemimpin perjuangan umat Islam tertinggi di kalimantan Selatan, maka pada tanggal 14 Maret 1862, bertepatan dengan 13 Ramadhan 1278 Hijriyah, sang pangeran memulai perjuangannya dengan seruan: “Hidup untuk Allah dan Mati untuk Allah.”

Kini giliran kita !

Tentunya masih banyak pejuang-pejuang muslim di masa silam selain mereka yang telah ditulis oleh tinta sejarah. Mereka muslim yang taat dan berdedikasi tinggi. Semangat perjuangan mereka diturunkan kepada generasi-generasi selanjutnya. Yang jadi pertanyaan, apakah kita siap meneruskan perjuangan dakwah mereka? Siapkah kita menggantikan mereka sebagai aktivis dakwah? Siap menghadapi segudang rintangan dan tipu muslihat dari musuh? Ataukah hanya berpangku tangan menunggu datangnya kemenangan?

Berpangku tangan menunggu kemenangan bukanlah pilihan yang bijak. Apa enaknya hanya sekedar menjadi penonton? Ikutlah. Masukkan diri anda ke dalam kancah perjuangan Islam. Cepat atau lambat, Islam pasti menang, dengan atau tanpa anda. Itu janji Allah yang pasti akan terjadi. Tinggal menunggu waktu. Tapi, sangat disayangkan jika anda yang sebenarnya mampu untuk memberikan kontribusi kepada perjuangan Islam, justri tutup mata dan tidak mau tahu terhadap permasalahan umat ini.

Di masa yang akan datang anta akan menyesali semua yang pernah anda lakukan. Tapi, anda akan lebih sangat menyesal terhadap semua hal yang tidak anda kerjakan, padahal anda mampu melakukannya pada waktu itu. Wallahu a’lam

Kamis, 27 Oktober 2016

Sholat sunnah penjauh dari api neraka

Di akhirat kelak, setelah selesai rangkaian hisab, hanya ada dua tempat kembali. Yang pertama adalah surga dan yang kedua adalah neraka. Jika seseorang tidak masuk surga, ia akan masuk neraka. Sebaliknya, diharamkan masuk neraka, berarti ia masuk surga.

Tahukah Anda? ada shalat sunnah yang fadhilahnya membuat pelakunya diharamkan masuk neraka.

Menariknya, shalat sunnah ini jarang dilakukan. Kalaupun ada yang rutin melakukannya, mungkin hanya 1 dari 1000 muslim yang ada. Shalat sunnah ini tidak lain adalah empat rakaat qabliyah (sebelum) Zhuhur dan empat rakaat ba’diyah (setelah) Zhuhur.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرُمَ عَلَى النَّارِ

Barangsiapa menjaga empat rakaat sebelum Zhuhur dan empat rakaat sesudahnya, maka diharamkan neraka atasnya (HR. Abu Daud; shahih)

مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللَّهُ تَعَالَى عَلَى النَّارِ

Barangsiapa menjaga empat rakaat sebelum Zhuhur dan empat rakaat sesudahnya, maka Allah Ta’ala mengharamkannya masuk neraka(HR. An Nasa’i; shahih)

مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

Barangsiapa menjaga empat rakaat sebelum Zhuhur dan empat rakaat sesudahnya, maka Allah mengharamkannya masuk neraka (HR. Tirmidzi; shahih)

Bahkan dalam riwayat lain, disebutkan lebih ringan dengan kata mengerjakan shalat, bukan menjaganya. Yang artinya, membiasakan, tidak berarti harus setiap hari.

مَنْ صَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعًا بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى النَّارِ

Barangsiapa shalat empat rakaat sebelum Zhuhur dan empat rakaat sesudahnya, maka Allah Azza wa Jalla mengharamkannya masuk neraka (HR. An Nasa’i dan Ahmad; shahih)

مَنْ رَكَعَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعًا بَعْدَهَا حَرَّمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَحْمَهُ عَلَى النَّارِ

Barangsiapa shalat empat rakaat sebelum Zhuhur dan empat rakaat sesudahnya, maka Allah Azza wa Jalla mengharamkannya masuk neraka (HR. An Nasa’i; shahih)

Mengapa banyak orang yang tidak mengerjakan shalat delapan rakaat ini? Di antaranya, karena tidak semua dari delapan rakaat itu adalah shalat sunnah muakkad.

Seperti jamak diketahui, shalat sunnah rawatib terbagi menjadi muakkad dan ghairu muakkad. Shalat sunnah muakkad yang mengiringi shalat Zhuhur adalah empat rakaat qabliyah dan dua rakaat ba’diyah. Sedangkan sisanya, dua rakaat ba’diyah lagi merupakan ghairu muakkad. Namun ternyata keseluruhan paket delapan rakaat itu merupakan shalat sunnah dengan fadhilah yang luar biasa; mengharamkan pelakunya dari neraka. [Muchlisin BK/Bersamadakwah]